Jakarta • Edisi Web 01 • Oktober 2026Geopolitik•Intelijen•Keamanan Global
Data & Intelijen · Moldova

Taksi online, pipa data Rusia?

Satu aplikasi menguasai sekitar 60% pasar taksi Moldova. Kini pemerintahnya ingin tahu ke mana data penumpang dibawa. Berkas pengadilan, tenggat 20 hari, dan pelajaran untuk UU Pelindungan Data Pribadi kita.

Analisis Strat4Policy24 Oktober 20264 menit bacaKategori: Intelijen

Setiap kali memesan taksi online, kita menitipkan jejak: dari mana berangkat, ke mana pergi, kapan pulang. Di Moldova, pemerintah kini bertanya: di mana sebenarnya jejak itu disimpan? Pertanyaan itu ditujukan pada Yandex Go, aplikasi yang menurut RFE/RL menguasai sekitar 60% pasar taksi negara itu.

Semua bermula dari soal pajak

Investigasi Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL) yang terbit 13 Oktober 2026 bersandar pada berkas pengadilan di Moldova. Di sana tercatat sekitar US$7,8 juta pendapatan Yandex Go yang diduga mengalir langsung ke bank di Dubai dan Kazakhstan, tanpa dipajaki lebih dulu.

Namun yang kemudian membuat pemerintah bergerak adalah pertanyaan yang jauh lebih besar dari urusan pajak: apakah data warga, yang selama ini diyakini tersimpan di Belanda, justru dikirim langsung ke server di Rusia?

60%Pasar taksi Moldova yang dikuasai Yandex (RFE/RL)
US$7,8 jtPendapatan yang diduga mengalir ke Dubai & Kazakhstan tanpa pajak
20 hariTenggat dari pemerintah Moldova

Dengan dominasi sebesar itu, sebagian besar perjalanan taksi di Moldova tercatat di satu platform, lengkap dengan titik jemput, tujuan, dan data pengemudinya. Maka pertanyaan berikutnya tak terelakkan: di mana semua catatan itu disimpan?

Belanda, atau Rusia?

Moscow Avenue, Chișinău, malam hari. Gikü / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0), diolah.
Moscow Avenue, Chișinău, malam hari. Gikü / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0), diolah.

Selama ini data pengguna Yandex di Moldova diyakini tersimpan di Belanda. Kini pemerintah menyelidiki dugaan bahwa data itu justru dikirim langsung ke server di Rusia. Kekhawatiran semacam ini sudah bertahun-tahun terdengar di Chișinău. Bedanya, kali ini pemerintah sendiri yang angkat bicara.

Kami memahami bahwa banyak warga dan pengemudi menggunakan platform ini. Karena itu, kami harus menyelidiki potensi risiko penggunaan data pribadi tanpa izin…

— Pemerintah Moldova, dikutip RFE/RL (terjemahan bebas)

Dari penolakan ke ultimatum

2022Otoritas Moldova pertama kali meminta data pengemudi. Empat permintaan diajukan, semuanya ditolak.
Nov 2025Otoritas persaingan usaha mendenda Ridetech International, pengelola aplikasi Yandex di Moldova.
5 Okt 2026Denda US$45.000 dibayar ke kas negara dari rekening bank di Uni Emirat Arab.
13–14 OktInvestigasi RFE/RL terbit; sehari kemudian Wakil PM Vladimir Bolea mengumumkan penyelidikan.
15 OktDewan peninjau investasi strategis yang dipimpin PM Vasile Tofan menuntut pemilik manfaat Yandex di Moldova diungkap, memerintahkan pelacakan aliran data, dan memberi tenggat 20 hari dengan ancaman penyitaan aset atau penangguhan aplikasi.

Bukan kecurigaan pertama

Moldova bukan negara pertama yang curiga. Pada Mei 2026, MLU BV, perusahaan grup Yandex yang berkantor pusat di Belanda, didenda US$112 juta di negeri itu karena data pelanggan dan pengemudi dari Norwegia dan Finlandia dikumpulkan dan disimpan di server Rusia. Latvia dan Estonia bahkan sudah melarang Yandex Go sejak 2022.

Foto ilustrasi pusat data, bukan server Yandex. BalticServers.com / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0), diolah.
Foto ilustrasi pusat data, bukan server Yandex. BalticServers.com / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0), diolah.

Dua versi, satu tanda tanya

Kata Yandex

Yandex berulang kali menyatakan data penggunanya disimpan oleh perusahaan grupnya di Eropa. Ia juga menyatakan akan memenuhi tenggat 20 hari, meski tidak merinci caranya.

Yang belum terjawab

Di pengadilan, MLU BV menyebut Ridetech telah memusnahkan data pengemudi; hakim menilai buktinya tidak cukup. Berkas perkara pun tidak menjelaskan di mana data itu disimpan.

Sampai ada jawaban, tuduhan tetaplah tuduhan.

Kenapa ini penting bagi Indonesia

Analisis Strat4Policy

Apa yang sebenarnya disimpan aplikasi transportasi?

Lebih dari sekadar alamat. Dalam kasus Belanda, data yang dipersoalkan mencakup pindaian SIM, lokasi presisi, riwayat perjalanan, foto, hingga isi percakapan.

Dan soal uangnya?

Pada Juni, parlemen Moldova membahas RUU yang mewajibkan platform taksi memproses pembayaran lewat bank dalam negeri. RUU itu tidak sampai ke pemungutan suara akhir.

Apa pelajarannya?

Indonesia sudah punya UU Pelindungan Data Pribadi (UU 27/2022) yang mengatur transfer data ke luar negeri. Kasus Moldova menunjukkan aturan semacam itu baru bermakna bila negara berani menelusuri siapa pemilik platform dan ke mana data benar-benar pergi. Data lokasi dari aplikasi transportasi adalah data strategis. (Analisis Strat4Policy)

Sumber & catatan
  1. GlobalSecurity.org, memuat RFE/RL: "Moldova To Probe Possible Russian Data-Harvesting After RFE/RL Investigation", Ionut Benea & Ray Furlong (20/10/2026)
  2. Investigasi asli RFE/RL Moldovan Service (13/10/2026), dirujuk dalam artikel di atas

Foto: Mirek237 (domain publik); Gikü (CC BY-SA 3.0); BalticServers.com (CC BY-SA 3.0, foto ilustrasi, bukan server Yandex), via Wikimedia Commons, diolah.